Penggulingan Kekuasaan : Antara ORLA dan ORBA

Oleh : Panji Semirang

Subbab 1        : Orde lama merupakan tatanan kehidupan berbangasa dan bernegara zaman Presiden Soekarno. Tatanan penggantinya, yang berusaha melakukan koreksi Orla disebut Orde baru. Orba kemudian dikoreksi lagi Orde Baru yang lebih Baru(Orbaba). Pada dua kali pergantian orde ini, terjadi pertumpahan darah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Subbab 2        : Pertumpahan darah pergantian Orla dilakukan oleh PKI yang kemudian terjadi balas dendam yang cukup dahsyat. Mahasiswa dan generasi muda lainnya didukung oleh militer membersihkan segala sesuatunya. Mereka yang ikut dalam perahu Orla sebagian adalah orang Orla yang masih baik, ditambah anak-anak baru yang muncul pertama kali di bidang-bidang tertentu.

Subbab 3-4    :  Pertumpahan darah pergantian Orba dilakukan oleh orang-orang bersenjata terhadap pendemo di Universitas Trisakti. Dan Orbaba menggantikan Orde Baru melalui proses yang hamper sama mengingat sejarah ini tengah berulang.

Subbab 5- 10 : Persamaan Orla dan Orba ditandai dengan adanya mahasiswa yang mengadakan aksi demo yang disebabkan oleh parpol yang pongah dan presiden yang sangat berkuasa. Penyebab keduanya berkuasa dan menjadi tempat bergantungnya berbagai kekuatan karena hukum yang belum benar tidak dilaksanakan dengan benar pula. Presiden bisa menjadi apa saja. Tidak heran kemudian keluarganya dapat menyusun kerajaan bisnis. Hokum ditundukkan oleh kepentingan politik dan ekonomi.

Subbab 11-21  : Perbedaannya yaitu demo 1966 (Orla) terdapat pro kontra dalam militer yang tidak memakan korban jiwa dalam jumlah banyak; sedangkan demo 1998 (Orba), militer berdiri di jalur undang-undang dan memakan banyak korban jiwa. Selain itu, Presiden Soekarno mundur melalui dua proses yaitu penyerahan mandat melalui Supersemar dan dikeluarkan pernyataan dari partai Islam DPR agar Presiden diturunkan, sedangkan Presiden Soeharto hanya diturunkan setelah mahasiswa dan pimpinan DPR mengultimatum agar wakil rakyat mengadakan sidang. Akhirnya soeharto angkat tangan dan langsung menyerahkan kekuasaannya kepada Wapres BJ Habibie, yang kemudian disunpah di depan Mahkamah Agung.

Subbab 22      : Tragedi seperti ini dapat dicegah yaitu dengan sadar akan sejarah. Dan meyakini bahwa semacam hukum karma dapat tiba. Seperti halnya ketika seseorang yang pernah ‘menggulingkan’ kekuasaan mengalami digulingkan  kekuasaannya oleh pihak lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s