Sistem Pondok

Oleh : Wariso Ram

Ikhtisar Bacaan

Subbab 1        :  Sebagian besar migrant sekuler berasal dari rumah tangga desa yang hanya memiliki lahan sempit dan berpendidikan rendah serta berkeadaan ketidakcukupan pada umumnya.

Subbab 2        : Keadaan seperti itu membuat mereka untuk melakukan usaha mandiri dan sebagian dari mereka memulai mendirikan usaha dalam bidang usaha yang kurang menarik bagi para elit kota walaupun sebenarnya tidak efisien.

Subbab 3-4    : Usaha yang mereka lakukan disebut usaha sisa karena si pemilik modal umumnya tidak tertarik untuk bergerak dalam usaha. Namun, dengan pengalaman yang dimiliki migran sirkuler, hal tersebut merupakan modal besar bagi perkembangan sistem pondok di kalangannya.

Subbab 5        : Jenis usahanya pun bermacam-macam, antara lain adalah usaha membuat dan menjual makanan dan minuman murah, usaha transport jarak dekat dengan menggunakan tenaga bukan mesin dan usaha pengumpulan barang bekas untuk didaur ulang.

Subbab 6-7    : Usaha ini bersifat padat karya sehingga memerlukan keterampilan. Biasanya azas kerukunan dan kekeluargaan menjadi sendi utama walaupun tujuan utamanya adalah keuntungan ekonomi. Azas kerukunan dan kekeluargaan dapat terlaksana karena dengan melaksanakan tersebut semua pihak merasa mendapat keuntungan.

Subbab 8        : Dipandang dari besarnya sumbangan tenaga kerja migran sirkuler dalam proses produksi dan penjualan hasil, sistem pondok dapat terbagi menjadi 4 kelompok.

Subbab 9-18  : Sistem pondok gotong royong adalah sistem pondok dimana setiap anggota memiliki kedudukan yang sama dan ikut andil yang sama terhadap usaha bersama. Kelompok ini dibentuk atas dasar azas kegotong royongan para anggota. Jumlah anggota kelompok rata-rata kecil, antara 8-12 orang dan hubungan antar kelompok kuat sehingga muncul rasa saling percaya sesama anggota.

Subbab 19-23  : Sistem pondok rumah tangga yaitu sistem pondok dimana kedudukan pemilik pondok (pengusaha pondok) berkedudukan seperti kepala rumah tangga dan hubungan dalam sistem ini mirip dengan hubungan dalam rumah tangga. Antara pemilik pondok boro dengan para pembantunya terdapat hubungan yang dilandasi azas kekeluargaan. Sistem ini biasanya dilakukan dalam pondok boro yang menggunakan tenaga migran sirkuler yang berasal dari desa yang jauh.Dalam proses pembuatan barang belum digunakannya teknologi.

Subbab 24-30  : Sistem pondok usaha perseorangan adalah sistem pondok dimana telah dikenal deferensiasi tenaga yang bertugas dalam proses produksi dengan tenaga yang bertugas dalam pemasaran hasil produksi. Kedudukan pemilik pondok boro lebih serupa dengan kedudukan seorang “majikan” dalam perusahaan perseorangan. Hubungan majikan dengan karyawan lebih erat daripada hubungan majikan dengan penjual. Dalam sistem ini berlaku azas kekeluargaan. Sistem pondok ini juga telah menggunakan teknologi dan mempunyai sejumlah karyawan dan penjual.

Subbab 31-39  : Sistem yang terakhir adalah sistem pondok sewa, yaitu sistem pondok yang tidak melibatkan diri dalam kegiatan produksi ataupun pemasaran barang. Para migran sirkuler yang tinggal di pondok boro berperan sebagai penyewa. Dalam memproduksi barang dagangan mereka menggunakan mesin dan peralatan milik si pemilik pondok boro. Karena hubungan pemilik pondok boro dengan para migran sirkuler adalah hubungan sewa menyewa maka hubungan tersebut agak renggang. Pemilik pondok berperan sebagai majikan dan para migran sirkuler sebagai karyawan.

Subbab 40-43  : Selain keempat sistem itu terdapat sistem pondok yang merupakan campuran. Misalnya, dalam pondok usaha krupuk terdapat pemisahan antara tenaga pembuat dan tenaga penjual. Ada pula sistem pondok yang tidak mempunyai karyawan. Dalam berbagai macam pondok sering dilengkapi dengan semacam kantin atau warung makan yang diselenggarakan oleh pihak pemilik pondok boro. Hampir semua pemilik pondok boro berperan sebagai pelindung para penghuni pondok.

Subbab 44      : Dilihat dari jenis kegiatan penghuninya pondok boro dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu: pondok boro buruh, pondok boro penjual dan pondok boro produksi.

Analisis Bacaan

  1. Identifikasi nama grup dan proses pembentukan
  • Grup sistem pondok gotong royong

Grup ini dibentuk atas dasar azas kegotong royongan yang kuat diantara para anggota. Jumlah anggota kelompok rata-rata kecil, antara 8-12 orang dan hubungan antar kelompok kuat sehingga muncul rasa saling percaya sesama anggota.

  • Grup sistem pondok rumah tangga

Sistem pondok ini dilandasi azas kekeluargaan dimana hubungan dalam sistem ini mirip dengan hubungan dalam rumah tangga. Sistem ini biasanya dilakukan dalam pondok boro yang menggunakan tenaga migran sirkuler yang berasal dari desa yang jauh.

  • Grup sistem pondok usaha perseorangan

Proses pembentukannya diawali dengan adanya deferensiasi tenaga yang bertugas dalam proses produksi dengan tenaga yang bertugas dalam pemasaran hasil produksi. Dalam sistem ini berlaku azas kekeluargaan dan telah menggunakan teknologi serta mempunyai sejumlah karyawan dan penjual.

  • Grup sistem pondok sewa

Sistem pondok yang tidak melibatkan diri dalam kegiatan produksi ataupun pemasaran barang. Para migran sirkuler yang tinggal di pondok boro berperan sebagai karyawan sedangkan pemilik pondok sebagai majikan sehingga hubungan antara mereka agak renggang.

 

  1. Dasar pembentukan dan syarat-syarat masuk dalam grup
    1. Dasar pembentukan
  • Dasar kepentingan bersama, majikan dan migran sirkuler memiliki kepentingan bersama berupa keuntungan ekonomi. Majikan ingin memperoleh laba yang besar dan para migran sirkuler yang berasal dari keadaan yang ketidakcukupan yang juga ingin mendapatkan penghasilan cukup.
  • Dasar keturunan satu nenek moyang, pada sistem pondok boro antara pemilik modal dengan karyawan dan penjual sering terdapat hubungan kekerabatan atau masih dalam satu wilayah yang sama.
  • Dasar tempat tinggal yang sama,antar para migrant sirkuler biasanya berasal dari wilayah yang sama, dan bertempat tinggal yang sama di pondok.
  1. Syarat-syarat masuk dalam grup
  • Adanya kesamaan nasib, kepentingan, dan tujuan
  • Adanya kesadaran untuk saling menolong dalam kehidupan bersosialisasi
  • Adanya kejujuran dan saling mempercayai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s