Kehidupan Suku Dayak Kenyah Dan Modang Dewasa Ini Inventarisasi Sebuah Proses Pemiskinan

Oleh : Franky Raden

Ikhtisar Bacaan ke-2

Subbab 1-2 : Kesadaran si penulis selama 5 bulan di pedalaman Kalimantan Timur tentang kesenian dalam masyarakat suku Dayak Kenyah dan Modang ternyata tidak bisa dilepaskan dari konteks gerak kehidupan sehari-hari. Maksudnya, kesenian buakan suatu yang khusus seperti masyarakat modern di kota.Seluk-beluk masalah yang mereka hadapi menjadi lebih penting ketimbang kesenian itu sendiri.

Subbab 3     :Suku Dayak kenyah dan Modang berada di wilayah Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai, Kota Tenggarong.Kecamatan ini menyebar 12 perkampungan yang letaknya memanjang di tepi sebelah kiri sungai Kelinjau, anak sungai Mahakam yang menjadi sarana lalu lintas antar kampung ke kota.

Subbab 4     :Adanya perpecahan yang disebabkan oleh konflik seperti meninggalkan daerahnya. Hal ini dikarenakan 2 hal yaitu timbulnya persoalan baru di dalam masyarakat suku Dayak Kenyah dan Modang setelah Belanda datang membawa agama Kristiani ke daerah ini mengingat ada sebagian dari mereka yang tetap memeluk kepercayaan lama. Kemudian hal lainnya yaitu kesulitan memperoleh barang kebutuhan baru.

Subbab 5     :Hal yang terjadi ini merupakan suatu psiko-drama yang dahsyat berlangsung dalam diri mereka di saat mereka berani meraih masa depan tanpa mempunyai gambaran sama sekali. Ini awal dari proses pemiskinan yang menggerogoti setiap sisi kehidupan mereka.

Subbab 6-7 :Tibanya mereka di daerah baru yaitu kota. Dengan situasi yang berbeda dengan tradisi kebudayaan mereka. Orang-orang Dayak itu sadar bahwa satu-satunya sektor yang harus mereka andalkan dalam memasuki dunia baru adalah sektor ekonomi.

Subbab 8     :Transportasi ke kota yang sangat sukar menyebabkan hasil pertanian menjadi tidak berarti banyak bahkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Selain faktor tengkulak, warung-warung yang dimiliki oleh pendatang apalagi pada saat sungai Kelinjau surut, arus perekonomian terfokus pada warung ini.

Subbab 9     : Kondisi perekonomian seperti itu akhirnya merupakan salah satu faktor yang paling kuat dan mengakibatkan kegoncangan dan memojokkan kehidupan orang-orang Dayak bahkan mencabut mereka dari akar kehidupan budaya mereka sendiri.Lamin sebagai manifestasi dari tata pemerintahan juga menjadi bangunan megah mati karena setiap keluarga sudah memiliki rumah.

Subbab 10 :Akibat desentralisasi, kesenian menjadi terpisah dari kehidupan sehari-hari mereka. Dengan tinggalnya kesenian, di antara mereka terlihat pengkotak-kotakan antara generasi tua, muda, dan kanak. Barang-barang produk teknologi modern seperti kaset mulai membunuh musik mereka.

Subbab 11   :Hilangnya kesenian bukan berarti mereka kehilangan religius yang kental dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tetapi ini juga berarti kehilangan wadah submilasi yang perlu pada saat mereka berada dalam kondisi psikologis yang depresi. Mereka juga kehilangan nilai-nilai sosial dalam kehidupan mereka.

Subbab 12   : Pendidikan formal bagi mereka malah menjadi beban ekonomi baru bagi penduduk yang ingin menyekolahkan anak mereka di kota dan tidak berkaitan langsung untuk menunjang kehidupan mereka.

Subbab 13   :Kondisi seperti demikian harus ditangani pemerintah daerah namun sebelum itu, pemerintah harus menguasai dan memahami bagaimana menangani kedatangan mereka jika pemerintah menganjurkan mereka hidup di wilayahnya.

Subbab 14   : Suku Dayak ini jelas merupakan suatu Tipologi masyarakat yang sangat unik. Masalah pembenturan sistem nilai mereka dengan sistem nilai dari kota jelas bukan masalah yang sederhana. Hal ini ditafsirkan karena menganggap masalah yang mereka hadapi hanyalah masalah survival belaka sehingga dengan mendirikan dan menugaskan instansi-instansi khusus yang akan menangani masalah tersebut pemerintah mengira sudah cukup.

Subbab 15   : Penguasa-penguasa hutan yang semena-mena menutup lahan  yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat suku dayak merupakan faktor terjahat karena hal itulah yang membuat mereka kesulitan untuk mencari alternatif lain untuk bertahan hidup.

Subbab 16-17  :Kekhaosan yang memproses masyarakat mereka makin tenggelam dan miskin, bukan hanya miskin material, melainkan juga spiritual.Proses pemiskinan yang mereka alami adalah proses pemiskinan nilai secara keseluruhan di tiap sisi kehidupan, bukan hanya masalah kemiskinan yang umumnya terjadi yaitu ekonomi. Dalam kondisi purba demikian menjadi wajar  jika reaksi mereka adalah mengejar tingkat kehidupan di sektor ekonomi belaka tanpa peduli terlantarnya nilai-nilai yang tergolek dalam sektor kehidupan lain.

Subbab 18   :Tingkat kehidupan ekonomi masyarakat Dayak saat ini boleh dibilang tidak terlampau buruk. Namun secara ekstrim dapat dikatakan bahwa suku Dayak saat ini tidak lain dari sebuah proses pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam dimensi masalah cultural.

Subbab 19   :Kehidupan suku Dayak Umak Tau di kampong Tanjung Manis merupakan satu-satunya masyarakat Dayak yang masih memiliki wadah untuk ruang gerak system nilai tradisi dan betapa mandirinya sistem nilai kebudayaaan Dayak yang asli walaupun juga merupakan kampung yang paling miskin dan rawan.

Subbab 20   : Mereka mencari wadah baru untuk memanifestasikan nilai-nilai kultural tradisi seperti berkumpul di warung-warung sambil bercakap-cakap.

Subbab 21-22  :Masalah kemiskinan di Indonesia tidak hanya dalam konteks perekonomian namun hal yang lebih mendasar adalah bagaimana menghormati dan memberi hak hidup mereka di atas nilai kultur tradisi sendiri.

Subbab 23   :Strategi kelangsungan hidup negara kita sebenarnya harus ebrsandar pada kemandirian gerak hidup buday kelompok manusia. Hal yang harus dimengerti adalah Inner-security bukan hanya ketahanan lapisan luar.

Subbab 24   :Masalah yang dihadapi oleh suku Dayak ini kalau kita mau berrefleksi sebenernya adalah miniatur masalah yang terjadi di Indonesia. Dimana masuknya sistim nilai kebudayaan barat yang tiba-tiba memaksa kesadaran kita untuk melihat fenomena kehidupan bangsa Indonesia dalam konteks masalah kemiskinan yang diidentifisir melalui kriteria tingkat kehidupan ekonomi yang berlaku di sana.

Subbab 25   :Masuknya sistem nilai kota membuat mereka sadar bahwa mereka miskin dan ingin menjual harta kebudayaan mereka kepada orang kota. Titik ekstrimnya adalah menjadi pengemis di hadapan turis-turis asing.

Subbab 26   :Keterkejutan orang-orang Dayak sama halnya dengan bangsa ini yang ingin lekas mencari bantuan pinjaman modal asing untuk meningkatkan sektor perekonomian.

Subbab 27   :Kesadaran yang tuntas dan politis akan materi yang masalah kehidupan manusia dan bangsa sendiri sama sekali tidak dimiliki. Sebenarnya, melalui turisme, kita menjual bangsa sendiri seperti Nias, Dayak dan lain-lain namun suku-suku ini jelas belum siap untuk dihadapkan secara frontal kepada suatu jaringan kehidupan modern.

Subbab 28   : Dengan terciptanya semua masalah itu, kita semua berada dalam kondisi yang arkhanis, tidak ada yang superior antara satu dengan yang lainnya.

Subbab 29   : Pandangan sang penulis terhadap kondisi masyarakat secara menyeluruh bahwa kita berada pada posisi yang aktif serta memiliki otoritas. Pada posisi ini, kita dapat mengerem proses itu jika kita menyadari bahayanya. Dan sekarang ini, bagaimana kiat membawa dan memanfaatkan semua posisi dan kemungkinan itu untuk kepentingan negara dan masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s