Apa Kabar Pertanian Indonesia ?

Berbicara mengenai tanah pertanian, masih banyak ditemukan para petani yang memaksakan proses produksi di tanah yang tidak cukup baik sehingga menghasilkan produk yang tidak maksimal dan berkualitas rendah bahkan sangat rendah. Hal ini menyebabkan daya jual yang sangat minim. Sebagai contoh di Jawa Barat, pada umumnya keadaan tanah sangat baik untuk pertanian. Lain halnya tanah di luar Pulau Jawa, misalkan di Pulau Kalimantan yang tidak cocok untuk padi melainkan seperti jeruk dan nanas. Keadaan ini disebabkan oleh struktur tanahnya.

Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang memperhatikan keadaan tanah serta bagaimana cara penataan tanah yang tentu saja tidak lepas dari campur tangan manusia yang memiliki sumber daya manusia yang baik. Karena tanahlah, pertanian akan berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Tanah yang dapat menyediakan unsur hara yang cocok dapat menumbuhkan tanaman di atasnya. Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia memiliki jenis tanah yang beragam seperti tanah humus, tanah alluvial dan tanah vulkanik. Namun pada intinya, tekstur tanah yang paling ideal bagi tanah pertanian adalah  tekstur lempung berdebu, yang terdiri dari 25% air tanah, 25% udara tanah, 45% mineral dan 5% bahan organik. Tekstur tanah berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah yang lain, sifat erat berkaitan dengan pertumbuhan tanaman , misalnya sifat kelengasan tanah, permeabilitas tanah dan sebagainya.

Di Indonesia, masih banyak lahan yang tidak didayagunakan secara maksimal. Untuk itu, sebagai masyarakat yang baik dan peduli terhadap lingkungan, kita seharusnya memanfaatkan lahan tersebut untuk memenuhi kebutuhan seperti tanaman obat, tanaman biji-bijian dan tentunya udara bersih yang kita dapat. Namun, dengan seiringnya kemajuan teknologi dan pembangunan, banyak dari kita melupakan pentingnya pertanian dengan memanfaatkan lahan untuk pembangunan apalagi bangunan yang tidak ramah lingkungan. Lahan pertanian di Indonesia memang sangat mengalami penurunan drastis. Pada bulan Mei 2012, luas lahan pertanian di Indonesia sekitar 13 juta hektare. Jika dibagi dengan jumlah petani pangan sebanyak 30 juta orang, maka rata-rata lahan per petani hanya sebatas 0,3 hingga 0,4 hektare. Fakta ini memang sangat disayangkan karena dengan luas daratan Indonesia yang mencapai 1.922.570 km² atau 192.257.000 hektare tidak dimanfaatkan dengan baik sebagai lahan pertanian untuk menunjang berbagai aspek kehidupan manusia.

Kualitas udara di Indonesia khususnya wilayah perkotaan memang terkenal dengan udara yang sudah terpolusi oleh berbagai macam bahan kimia yang berbahaya seperti limbah pabrik, kendaraan bermotor, dan pembakaran yang tidak terkontrol dengan baik.

Lalu bagaimana hubungannya dengan pertanian? Pertumbuhan tanaman dapat dipicu dengan kondisi udara yang bersih dan tidak terpolusi. Tanaman akan tumbuh dengan baik jika udara di sekitarnya mendukung dan tidak memberi efek racun bagi tanaman tersebut. Kelembaban dan tekanan udara juga sangat berperan. Setiap saat kelembaban dan tekanan udara pasti mengalami perubahan, maka dari itu perlu dilakukan pengawasan setiap waktu agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu.

Kita patut bersyukur dengan wilayah Indonesia yang agraris dan berada dalam iklim tropis. Tetapi, fakta membuktikan bahwa tidak sedikit kondisi pertanian di Indonesia yang memiliki irigasi yang cukup. Memang, hal ini juga disebabkan oleh musim dan cuaca yang tidak menentu bahkan bencana seperti kemarau berkepanjangan dan banjir. Seharusnya sebagai masyarakat yang harus ikut andil dan berpengetahuan, keadaan seperti ini dapat dicegah dengan perencanaan dan pengaturan perairan sawah yang baik dan terkendali.

Melihat pertanian kita saat ini, sungguh ironis jika tidak adanya usaha dalam melestarikan lingkungan dari keterpurukan yang tidak ada habisnya bila didiamkan saja Kini, bagaimana kita mengatasinya? Ya, salah satu langkah kecilnya adalah kebiasaan untuk menanam tanaman di pekarangan rumah baik itu tanaman hias, tanaman berbuah segar maupun tanaman obat. Tanaman penyerap gas-gas pencemar udara NO dan CO buangan knalpot kendaraan bermotor juga perlu ditanam terutama pada halaman dekat jendela rumah bahkan di pinggir jalan raya. Seperti yang kita ketahui, pohon angsana, mahoni, kenari merupakan pohon peneduh yang biasa ditanam di tepi jalan besar. Namun, Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan telah menguji bahwa perdu hias dan terna hias juga mampu menurunkan polusi NO di jalan-jalan. Contoh perdu hias seperti puring, soka, kembang sepatu, sablo dan Mussaenda.  Sedangkan terna hias yakni antara lain kaktus penghuni tempat terbuka, rumput kriminil (krokot), sri mukti (sejenis sri rejeki) dan maranta penghuni naungan. Selain  itu, Filicium decipiens (kere paying) dapat mengurangi pencemaran udara NO sampai 61,47%.

Selain langkah tersebut, hal yang tak kalah pentingnya adalah kesadaran pribadi kita masing-masing dalam melestarikan lingkungan dan pertanian di Indonesia. Gunakanlah teknologi untuk memperbaiki lingkungan bukan untuk merusaknya seperti membuat lubang resapan biopori, menggunakan ecobag, meminimalisir penggunaan pensil kayu dengan memakai pensil mekanik, dan lain sebagainya.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s